Rantepao |TU7UA| Pejabat bidang kearsipan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Sulawesi Selatan melakukan kunjungan ke Pemerintah Kabupaten Toraja Utara (Torut) pada Senin (25/11/2024).

Kunjungan ini dihadiri oleh Sekretaris DPK Sulsel, Dr. H. Asriady Sulaiman, SIP, M.Si, Kepala Bidang Kearsipan DPK Sulsel, Dr. H. Basri, S.Pd., M.Pd, serta Tim Pengawasan Kearsipan yang terdiri dari Irzal Natsir, SE., M.Si, Koordinator Arsiparis Sulsel, Sherley R. Lobo, S.Sos, Arsiparis Ahli Madya, dan Andi Bachtiar, S.Sos., M.A.
Kunjungan yang mereka lakukan untuk mengikuti Rapat Evaluasi Penerapan Sistem Informasi Kearsipan Dinamis Terintegrasi (Srikandi) di Aula DPK Torut.
Rapat yang dibuka oleh Kepala DPK Torut, Obednego Toding Padang, SE, menyampaikan bahwa evaluasi penerapan Srikandi merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden nomor 95 tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), yang mengharuskan pemerintah menggunakan aplikasi ini.
“Semoga rapat evaluasi ini dapat dioptimalkan oleh semua peserta,” harapnya.
Sekretaris DPK Sulsel, Asriady Sulaiman, memberikan apresiasi kepada DPK Torut yang dianggap sangat aktif dalam berkomunikasi mengenai digitalisasi kearsipan. Ia menambahkan bahwa penerapan Srikandi sangat penting, dan kehadirannya di Torut bertujuan untuk mendukung implementasi tersebut.
Asriady juga menekankan bahwa dengan keberhasilan digitalisasi pemerintahan yang dibawa oleh Pj Gubernur Sulsel Prof Zudan, Pemkab Torut diharapkan dapat lebih banyak menggunakan digitalisasi, mengingat kondisi geografis daerah tersebut yang membutuhkan akses cepat untuk menyampaikan informasi.
Ia mengingatkan pentingnya dukungan infrastruktur seperti internet untuk mendukung penerapan Srikandi secara maksimal. “Jika diterapkan dengan baik, seperti di Kabupaten Bantaeng yang menghemat 8 Miliar APBD dengan penggunaan Srikandi, Torut bisa mendapatkan manfaat yang sama,” ujarnya.
Kabid Kearsipan DPK Sulsel, Dr. Basri, menjelaskan bahwa Srikandi mengintegrasikan proses arsip yang melibatkan semua OPD, baik vertikal maupun horizontal. Ia mengingatkan bahwa arsip dibagi menjadi arsip dinamis dan statis, dan arsip dinamis perlu dikelola secara sistematis agar dapat dijaga keaslian dan ketersediaannya.
“Pengelolaan arsip dinamis mencakup penciptaan, penggunaan, pemeliharaan, dan penyusutan,” tambahnya.
Dr. Basri menekankan pentingnya penerapan Srikandi karena merupakan aplikasi yang digunakan secara nasional. Menurut data dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) per 22 November 2024, Torut memiliki jumlah arsip keluar yang rendah dibandingkan dengan Kabupaten Tana Toraja, yang menunjukkan bahwa penerapan Srikandi perlu lebih ditingkatkan.
“Srikandi merupakan indikator penting dalam SPBE, dan kami berharap Torut dapat mengoptimalkan penggunaannya,” tutup Andi Bachtiar, Coach Srikandi Sulsel.














