TU7UA | Makassar — Film horor Indonesia seringkali mengeksploitasi unsur mistis dan kengerian semata. Namun, “Doti: Tumbal Ilmu Hitam,” sebuah film yang diproduseri oleh Yehezkiel Amir dan disutradarai oleh Bayu Pamungkas, menawarkan sesuatu yang berbeda. Lebih dari sekadar horor, film ini merupakan eksplorasi yang menarik terhadap kepercayaan lokal, khususnya di Sulawesi Selatan, dan konflik moral yang kompleks yang terjalin di dalamnya. Dengan alur cerita yang menegangkan dan permainan aktor yang meyakinkan, “Doti: Tumbal Ilmu Hitam” berhasil mengangkat isu-isu sosial dan budaya yang relevan, sekaligus memberikan pengalaman menonton yang menghibur.
Cerita berpusat pada Ikhsan (Ahmad Pule), seorang pemuda yang kembali ke kampung halamannya, Desa Jonjo, setelah 15 tahun berlalu sejak kematian tragis ayahnya, Daeng Rate (Jerry Wong). Daeng Rate dituduh sebagai dukun Doti, sebuah praktik ilmu hitam yang diyakini oleh sebagian masyarakat. Tuduhan ini bukan hanya menghancurkan reputasi Daeng Rate, tetapi juga merenggut nyawanya. Ikhsan, didorong oleh rasa ingin tahu dan keinginan untuk membersihkan nama baik ayahnya, berziarah ke makam ayahnya yang terbengkalai.
Kehadiran Ikhsan di Jonjo menarik perhatian Daeng Rewa (Billy Budjanger), seorang dukun sakti yang menyimpan rahasia di balik kematian Daeng Rate. Konflik antara Ikhsan dan Daeng Rewa menjadi inti dari cerita. Ikhsan, yang berusaha mengembalikan keimanan dan nilai-nilai agama di desa melalui perbaikan mushola, dihadapkan pada serangkaian kematian misterius yang dikaitkan dengannya oleh Daeng Rewa. Ironisnya, dalam pertarungan antara ilmu hitam dan keyakinan, justru Daeng Rewa yang tewas, membuka tabir kebenaran tentang kematian Daeng Rate dan keterlibatan Daeng Rewa di dalamnya.
“Doti: Tumbal Ilmu Hitam” tidak hanya menyajikan horor lewat unsur-unsur supranatural seperti santet dan ilmu hitam. Film ini juga mengarungi kedalaman psikologis para karakternya. Trauma Daeng Rannu (Sri Herawati), ibu Ikhsan, yang masih terbebani oleh kematian suaminya, menunjukkan dampak yang mendalam dari tuduhan dan stigma sosial terhadap keluarga Daeng Rate. Film ini juga menyinggung isu kepercayaan buta terhadap kekuatan supranatural dan bahaya fitnah yang dapat menghancurkan kehidupan seseorang.
Kayla Maulida, penulis skenario, berhasil memadukan unsur horor dengan elemen-elemen budaya Sulawesi Selatan yang kental. Penggunaan setting Desa Jonjo dan penampilan para pemain lokal memberikan sentuhan autentik dan memperkaya pengalaman menonton. Dengan dukungan dari Dream Picture dan Ruang Visual Production, film ini berhasil menghadirkan visualisasi yang menarik dan menunjang alur cerita yang menegangkan.
“Doti: Tumbal Ilmu Hitam” bukan hanya sekadar film horor yang menghibur. Film ini merupakan karya sinematik yang mampu mengajak penonton untuk merenungkan kepercayaan lokal, konflik moral, dan dampak dari tuduhan dan fitnah dalam masyarakat. Melalui penggunaan unsur-unsur mistis dan alur cerita yang menarik, film ini berhasil menawarkan pengalaman menonton yang menghibur dan mendalam.














