Diskusi Buku Sejarah Kerajaan Makassar Karya Nicolas Garvaise: Memanggil Pulang Kisah Kota Dunia

- Jurnalis

Selasa, 16 Desember 2025 - 00:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tu7ua | Makassar  —  Ruang Makassar di Sunachi Suki Restaurant, Hotel Claro menjadi titik temu bagi pencinta sejarah, akademisi, pegiat budaya, politisi, dan wartawan untuk membahas buku Discription Historiqur di Royume de Macacar (Sejarah Kerajaan Makassar) karya penulis Prancis Nicolas Garvaise. Acara yang dipandu Arwan D Awing, Direktur Bugis Pos Grup, tidak hanya membedah isi buku, tetapi juga menyusuri ulang identitas Makassar yang pernah menjadi kerajaan besar di Nusantara abad ke-17, Minggu (14/12/2025).

Prof. Mardi: Sejarah Tidak Sekadar Dibicarakan, Ia Dipanggil Pulang

Pengalih bahasa buku tersebut, Prof. Dr. H. Mardi Adi Armin, M.Hum. Guru Besar Filsafat Bahasa Universitas Hasanuddin menjadi pembicara utama. Ia menyampaikan gagasan sentral bahwa “sejarah tidak sekadar dibicarakan ia dipanggil pulang.”

Buku yang pertama kali ditulis Garvaise tahun 1684 ini, diterjemahkan Prof. Mardi dari edisi bahasa Prancis tahun 2022. Ia menghabiskan enam bulan untuk menerjemahkan dan bahkan menelusuri jejak pewaris Garvaise, memastikan karya yang berusia lebih dari 50 tahun bebas dialihbahasakan. Ia juga telah meminta penerbit sebelumnya agar buku terjemahan dicetak lagi untuk diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat Makassar.

Dalam paparannya, Prof. Mardi menjelaskan bahwa Garvaise menggambarkan Makassar sebagai “simpul dunia” pelabuhan besar yang ramai orang asing, tempat agama, budaya, dan kepentingan bertemu. Buku mencatat bahwa dua utusan (satu dari Aceh, satu dari Malaka) pernah membawa ajaran Islam, dan karena yang dari Aceh tiba lebih awal, Islam kemudian menetap.

Ia juga membahas gelar bangsawan masa itu: Daeng, Karaeng, dan Lolo, di mana Daeng awalnya adalah gelar tertinggi sebelum digantikan Karaeng. Selain itu, cerita kepahlawanan Daeng Mangalle yang menentang Perjanjian Bungaya juga menjadi sorotan ia mengungsi ke Jawa, kemudian ke Siam (Thailand) atas pemberian Raja Phra Narai, dan kemudian memimpin pemberontakan terhadap penjajah di Ayutthaya. Kedua anaknya, Daeng Rurung dan Daeng Lolo, kemudian dibawa ke Perancis dan dirawat sebagai anak bangsawan “isyarat bahwa Makassar pernah begitu diperhitungkan,” ujarnya.

Baca Juga :  Rumah Zakat Gelar Senam Sehat dan Pemeriksaan Kesehatan

Pandangan Lain: Buku Sebagai “Simpul Sejarah” dan “Kota Dunia yang Kembali”

Sejarawan muda Adil Akbar Ilyas menyebut buku ini sebagai “simpul sejarah” yang mengkonfirmasi karya-karya sejarah lain yang ditulis kemudian. Menurutnya, Garvaise tidak hanya menceritakan raja-raja Gowa yang menikah lintas budaya, tetapi juga jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511), gelombang pengungsian orang Melayu, hingga kuliner Makassar yang sejak dulu terbuka pengaruh luar. “Makassar bukan menuju kota dunia,” katanya, “tetapi kembali ke kota dunia”—bukti nyatanya adalah kehadiran orang berbagai bangsa sejak ratusan tahun silam.

Diskusi juga mengungkap fakta menarik: gelar “Andi” yang kini populer baru dikenal hingga tahun 1906, sedangkan Kerajaan Gowa masa silam masih menggunakan gelar Daeng. Hal ini menunjukkan bahwa identitas tidak pernah beku, melainkan bergerak mengikuti zaman.

Dukungan Pemerintah: Menggali Kembali Sejarah dan Budaya

Dalam sambutan pembuka, Ketua DPRD Makassar Anwar Faruq, S.Kom., M.M mengaku bangga hadir dan menyatakan bahwa banyak arsip sejarah Makassar dan Bone tersimpan di luar negeri. Pemerintah daerah, katanya, berkomitmen mendukung upaya menggali kembali sejarah kota.

Ia juga menanggapi permintaan Prof. Mardi dan Prof. Kembong Daeng agar bahasa dan aksara lontara dibudayakan kembali, menyatakan siap menjembatani ke Wali Kota Makassar dan membuka peluang muatan lokal tentang lontara di sekolah dasar dan menengah. “Termasuk Bandara pun diusulkan seharusnya bertuliskan lontara, agar kita tahu sedang berada di mana,” tambahnya.

Baca Juga :  Upaya Menciptakan Sinergitas Pemerintah Pusat dan Daerah di Sulbar

Agenda Panjang: Merawat Ingatan Kolektif

Rahman Rumaday, Founder Komunitas Anak Pelangi (K-apel), menyebut diskusi ini sebagai bagian dari agenda panjang merawat ingatan kolektif. Sementara itu, Dahlan Abubakar, penulis dan wartawan Pedoman Rakyat.co.id, menambahkan bahwa buku terjemahan Prof. Mardi terkoneksi dengan karya lain seperti Buku Arupalakka.

Sebelum menutup acara, moderator Arwan D Awing memberikan pekerjaan rumah bagi peserta: pelestarian bahasa dan budaya daerah, pengkajian mendalam tentang Daeng Mangalle, pembuatan buku tentang Makassar sebagai “kota dunia yang kembali”, serta pesan kepada Anwar Faruq: “jangan tinggalkan kami Pak Dewan.”

Pada akhir acara, Prof. Mardi juga menyerahkan buku terjemahannya kepada Prof Muhammad Asdar, Prof. Kembong Daeng, Yudhistira Sukatanya, dan Anwar Faruq.

Sekilas Buku Discription Historiqur di Royume de Macacar

Buku yang diterbitkan pertama kali di Perancis tahun 1684 ini (edisi pertama dicetak tahun 1688 oleh Grand Saint Grégoir di Paris) terbit 19 tahun setelah berakhirnya perang Gowa melawan VOC (1666-1669). Ada edisi kedua di Jerman (1700) dan edisi bahasa Inggris di London (1701).

– Buku Pertama: Menceritakan situasi negara, tanaman, hewan, kota, perang melawan Toraja, aktivitas pelabuhan, dan perang melawan Belanda terutama sosok Daeng Mangalle yang mengungsi ke Siam dan kemudian terlibat pemberontakan.

– Buku Kedua: Mengulas sifat dan kebiasaan orang Makassar, pemerintahan, mata pencaharian, seni-permainan, pakaian, dan adat pernikahan. Di sini juga dicatat tentang kesukaan orang Makassar akan minuman pedas “sorbec” (sara’ba), hierarki gelar bangsawan, serta struktur pemerintahan yang menekankan peran Perdana Menteri dan raja.

Raja Perancis Louis XIV bahkan pernah menyatakan ketakjubannya: “Tidak ada, orang-orang di dunia di mana bangsawan lebih dijiwai dengan derajat mereka selain orang-orang Makassar.”

Berita Terkait

Serah Terima Jabatan Se ORW 013, Lurah Buntusu Apresiasi Dedikasi Pj dan Komitmen Pembangunan Berkelanjutan
ITBM Balik Diwa Dapat Apresiasi Tinggi UNM: Prestasi LLDIKTI 2025 Sebagai Bukti Potensi Perguruan Tinggi Swasta Timur
Rumah Zakat Serahkan “Rumah Layak Huni” ke Keluarga Ilham 
Buku Antologi Bertajuk Koordinat Rasa Resmi Diluncurkan
K-apel Kembali Gelar Ekspedisi Berbagi Cinta di Pulau, Sentuh Hati Masyarakat Pesisir
Digitalisasi Gambusu Makassar Dorong Ekonomi Hijau dan Pariwisata Indonesia Timur
Makassar Gelar “Oktober Breast Cancer Awareness” untuk Tingkatkan Kesadaran Deteksi Dini Kanker Payudara
Sepuluh Penulis Lintas Latar Belakang Luncurkan Antologi “Koordinat Rasa” 
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 30 Desember 2025 - 22:02 WIB

Serah Terima Jabatan Se ORW 013, Lurah Buntusu Apresiasi Dedikasi Pj dan Komitmen Pembangunan Berkelanjutan

Sabtu, 20 Desember 2025 - 22:55 WIB

ITBM Balik Diwa Dapat Apresiasi Tinggi UNM: Prestasi LLDIKTI 2025 Sebagai Bukti Potensi Perguruan Tinggi Swasta Timur

Kamis, 18 Desember 2025 - 21:05 WIB

Rumah Zakat Serahkan “Rumah Layak Huni” ke Keluarga Ilham 

Selasa, 16 Desember 2025 - 00:05 WIB

Diskusi Buku Sejarah Kerajaan Makassar Karya Nicolas Garvaise: Memanggil Pulang Kisah Kota Dunia

Senin, 3 November 2025 - 19:10 WIB

Buku Antologi Bertajuk Koordinat Rasa Resmi Diluncurkan

Sabtu, 1 November 2025 - 19:56 WIB

K-apel Kembali Gelar Ekspedisi Berbagi Cinta di Pulau, Sentuh Hati Masyarakat Pesisir

Senin, 27 Oktober 2025 - 19:32 WIB

Digitalisasi Gambusu Makassar Dorong Ekonomi Hijau dan Pariwisata Indonesia Timur

Senin, 27 Oktober 2025 - 05:21 WIB

Makassar Gelar “Oktober Breast Cancer Awareness” untuk Tingkatkan Kesadaran Deteksi Dini Kanker Payudara

Berita Terbaru