“Doti: Tumbal Ilmu Hitam”: Eksplorasi Kepercayaan Lokal dan Konflik Moral dalam Film Horor Indonesia

- Jurnalis

Rabu, 23 Juli 2025 - 22:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TU7UA | Makassar  —  Film horor Indonesia seringkali mengeksploitasi unsur mistis dan kengerian semata. Namun, “Doti: Tumbal Ilmu Hitam,” sebuah film yang diproduseri oleh Yehezkiel Amir dan disutradarai oleh Bayu Pamungkas, menawarkan sesuatu yang berbeda. Lebih dari sekadar horor, film ini merupakan eksplorasi yang menarik terhadap kepercayaan lokal, khususnya di Sulawesi Selatan, dan konflik moral yang kompleks yang terjalin di dalamnya. Dengan alur cerita yang menegangkan dan permainan aktor yang meyakinkan, “Doti: Tumbal Ilmu Hitam” berhasil mengangkat isu-isu sosial dan budaya yang relevan, sekaligus memberikan pengalaman menonton yang menghibur.

Cerita berpusat pada Ikhsan (Ahmad Pule), seorang pemuda yang kembali ke kampung halamannya, Desa Jonjo, setelah 15 tahun berlalu sejak kematian tragis ayahnya, Daeng Rate (Jerry Wong). Daeng Rate dituduh sebagai dukun Doti, sebuah praktik ilmu hitam yang diyakini oleh sebagian masyarakat. Tuduhan ini bukan hanya menghancurkan reputasi Daeng Rate, tetapi juga merenggut nyawanya. Ikhsan, didorong oleh rasa ingin tahu dan keinginan untuk membersihkan nama baik ayahnya, berziarah ke makam ayahnya yang terbengkalai.

Baca Juga :  Bakti Aruna Ikatuo Indonesia

Kehadiran Ikhsan di Jonjo menarik perhatian Daeng Rewa (Billy Budjanger), seorang dukun sakti yang menyimpan rahasia di balik kematian Daeng Rate. Konflik antara Ikhsan dan Daeng Rewa menjadi inti dari cerita. Ikhsan, yang berusaha mengembalikan keimanan dan nilai-nilai agama di desa melalui perbaikan mushola, dihadapkan pada serangkaian kematian misterius yang dikaitkan dengannya oleh Daeng Rewa. Ironisnya, dalam pertarungan antara ilmu hitam dan keyakinan, justru Daeng Rewa yang tewas, membuka tabir kebenaran tentang kematian Daeng Rate dan keterlibatan Daeng Rewa di dalamnya.

“Doti: Tumbal Ilmu Hitam” tidak hanya menyajikan horor lewat unsur-unsur supranatural seperti santet dan ilmu hitam. Film ini juga mengarungi kedalaman psikologis para karakternya. Trauma Daeng Rannu (Sri Herawati), ibu Ikhsan, yang masih terbebani oleh kematian suaminya, menunjukkan dampak yang mendalam dari tuduhan dan stigma sosial terhadap keluarga Daeng Rate. Film ini juga menyinggung isu kepercayaan buta terhadap kekuatan supranatural dan bahaya fitnah yang dapat menghancurkan kehidupan seseorang.

Baca Juga :  Penyambutan MABA T.A.2024 - 2025 Digelar Prodi Ilmu Komunikasi UIT

Kayla Maulida, penulis skenario, berhasil memadukan unsur horor dengan elemen-elemen budaya Sulawesi Selatan yang kental. Penggunaan setting Desa Jonjo dan penampilan para pemain lokal memberikan sentuhan autentik dan memperkaya pengalaman menonton. Dengan dukungan dari Dream Picture dan Ruang Visual Production, film ini berhasil menghadirkan visualisasi yang menarik dan menunjang alur cerita yang menegangkan.

“Doti: Tumbal Ilmu Hitam” bukan hanya sekadar film horor yang menghibur. Film ini merupakan karya sinematik yang mampu mengajak penonton untuk merenungkan kepercayaan lokal, konflik moral, dan dampak dari tuduhan dan fitnah dalam masyarakat. Melalui penggunaan unsur-unsur mistis dan alur cerita yang menarik, film ini berhasil menawarkan pengalaman menonton yang menghibur dan mendalam.

Berita Terkait

Serah Terima Jabatan Se ORW 013, Lurah Buntusu Apresiasi Dedikasi Pj dan Komitmen Pembangunan Berkelanjutan
ITBM Balik Diwa Dapat Apresiasi Tinggi UNM: Prestasi LLDIKTI 2025 Sebagai Bukti Potensi Perguruan Tinggi Swasta Timur
Rumah Zakat Serahkan “Rumah Layak Huni” ke Keluarga Ilham 
Diskusi Buku Sejarah Kerajaan Makassar Karya Nicolas Garvaise: Memanggil Pulang Kisah Kota Dunia
Buku Antologi Bertajuk Koordinat Rasa Resmi Diluncurkan
K-apel Kembali Gelar Ekspedisi Berbagi Cinta di Pulau, Sentuh Hati Masyarakat Pesisir
Digitalisasi Gambusu Makassar Dorong Ekonomi Hijau dan Pariwisata Indonesia Timur
Makassar Gelar “Oktober Breast Cancer Awareness” untuk Tingkatkan Kesadaran Deteksi Dini Kanker Payudara
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 30 Desember 2025 - 22:02 WIB

Serah Terima Jabatan Se ORW 013, Lurah Buntusu Apresiasi Dedikasi Pj dan Komitmen Pembangunan Berkelanjutan

Sabtu, 20 Desember 2025 - 22:55 WIB

ITBM Balik Diwa Dapat Apresiasi Tinggi UNM: Prestasi LLDIKTI 2025 Sebagai Bukti Potensi Perguruan Tinggi Swasta Timur

Kamis, 18 Desember 2025 - 21:05 WIB

Rumah Zakat Serahkan “Rumah Layak Huni” ke Keluarga Ilham 

Selasa, 16 Desember 2025 - 00:05 WIB

Diskusi Buku Sejarah Kerajaan Makassar Karya Nicolas Garvaise: Memanggil Pulang Kisah Kota Dunia

Senin, 3 November 2025 - 19:10 WIB

Buku Antologi Bertajuk Koordinat Rasa Resmi Diluncurkan

Sabtu, 1 November 2025 - 19:56 WIB

K-apel Kembali Gelar Ekspedisi Berbagi Cinta di Pulau, Sentuh Hati Masyarakat Pesisir

Senin, 27 Oktober 2025 - 19:32 WIB

Digitalisasi Gambusu Makassar Dorong Ekonomi Hijau dan Pariwisata Indonesia Timur

Senin, 27 Oktober 2025 - 05:21 WIB

Makassar Gelar “Oktober Breast Cancer Awareness” untuk Tingkatkan Kesadaran Deteksi Dini Kanker Payudara

Berita Terbaru