Makassar |TU7UA| Diskusi bertema “Budaya Membaca, Membaca Budaya” berlangsung di Baruga Anging Mamiri Makassar pada Sabtu (1/2/2025), Prof. Dr. Mardi Adi Armin, M.Hum, menekankan pentingnya menciptakan ideologi dan mitos baru dalam kebudayaan.
Menurutnya, budaya harus memiliki dampak positif terhadap ekosistem, seperti praktik pemeliharaan bambu oleh masyarakat Kajang yang melarang sembarangan memotongnya.
Menurutnya, budaya harus memiliki dampak positif terhadap ekosistem, seperti praktik pemeliharaan bambu oleh masyarakat Kajang yang melarang sembarangan memotongnya.
Prof. Mardi menegaskan bahwa pemertahanan kebudayaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tugas bersama masyarakat. Ia mengajak seniman dan budayawan untuk berpikir kritis dalam menciptakan mitos baru yang dapat memperkuat identitas budaya.
Diskusi ini juga dihadiri oleh dosen UMI Dr. Syafruddin Muhtamar, S.H., M.H., dan anggota DPRD Sulsel Yeni Rahman, S.S., serta dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk penulis dan budayawan.
Dalam acara diskusi “Budaya Membaca, Membaca Budaya”, Dr. Syafruddin Muhtamar, S.H., M.H., mengungkapkan bahwa membaca budaya merupakan proses transisi dari tradisionalisme ke modernitas. Ia menekankan pentingnya memahami implikasi modernitas tanpa mengabaikan nilai-nilai tradisional.
Syafruddin menjelaskan bahwa budaya telah berbaur dengan modernisme, sehingga seringkali sulit untuk membedakan antara tradisi dan modernitas. Ia juga menyoroti pentingnya nilai-nilai spiritualitas yang terkandung dalam tradisi, seperti yang terdapat dalam karya sastra La Galigo. Diskusi ini menjadi wadah bagi para peserta untuk menggali lebih dalam tentang hubungan antara budaya, tradisi, dan modernitas.
Anggota DPRD Sulsel, Yeni Rahman, S.S., dalam diskusi “Budaya Membaca, Membaca Budaya” menyatakan pentingnya dukungan terhadap karya-karya penulis lokal. Meskipun anggaran tahun 2025 telah ditetapkan, Yeni berjanji akan memperjuangkan penerbitan karya penulis pada tahun depan.
Ia menekankan bahwa literasi harus dimulai dari diri sendiri dan tidak harus bergantung pada gelar pendidikan tinggi. Yeni juga mengajak para pemimpin untuk memberi contoh dengan membeli buku-buku karya penulis daerah.
Diskusi dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk penulis, budayawan, dan wartawan, yang menunjukkan antusiasme terhadap pengembangan literasi dan kebudayaan di Sulawesi Selatan.
Berita ini 5 kali dibaca














