Makassar |TU7UA| Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Jurnalis Online (JOIN) Sulawesi Selatan, Dr. Arry Abdi Syalman, menekankan pentingnya memahami tantangan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam media, yang tidak dapat menggantikan kecerdasan manusia.
Membuka secara resmi diskusi bertema “Media dan Artificial Intelligence,” ia mengungkapkan kekhawatiran tentang dampak media sosial dan kurangnya regulasi di Indonesia, di mana penggunaan media sosial sangat tinggi tanpa adanya undang-undang siber yang memadai.
Arry juga menyoroti perlunya edukasi bagi pembaca mengenai dampak penggunaan media sosial yang tidak bijak dan pentingnya sertifikasi profesional bagi jurnalis. Ia mengajak peserta untuk cerdas dalam menggunakan dunia maya dan berharap adanya penataan yang lebih baik dalam bisnis media siber di masa depan.
Diskusi mengenai peran kecerdasan buatan (AI) dalam jurnalisme, Dr Dahlan Abubakar, seorang Tokoh Pers yang juga Penguji Kompetensi Wartawan Dewan Pers dan Akademisi menegaskan bahwa AI dapat menjadi alat bantu yang signifikan bagi jurnalis muda.
Menjadi narasumber pada acara yang diselenggarakan oleh JOIN (Jurnalis Online Indonesia) Sulawesi Selatan bersama Komunitas Kafe Baca, ia menyatakan bahwa AI dapat membantu dalam menghasilkan karya jurnalistik dengan menyediakan informasi dan data yang diperlukan.
Bersama Dahlan Abubakar sebagai narasumber dalam diskusi, Fredrich Kuen, Direktur Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Jurnalistik dan Kehumasan Phinisi Pers Multimedia Training Center (P2MTC) yang juga Asesor Kompetensi Pers BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) dan mantan General Manager (GM) Perum LKBN ANTARA menjelaskan bahwa adaptasi berarti menerima AI secara penuh, sedangkan kolaborasi berarti memanfaatkan AI untuk tujuan positif dan terbatas.
Dalam paparannya, Fredrich menyoroti sisi positif AI yang dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja jurnalis. AI mampu menampilkan data dengan cepat dan melakukan analisis berbasis algoritma, yang dapat mendukung penulisan berita mendalam. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya pengecekan ganda untuk memastikan akurasi informasi yang dihasilkan oleh AI.
Mitha Mayestika, seorang mahasiswi pasca sarjana di Universitas Hasanuddin dan dosen di UIT dan UT, juga menambahkan bahwa AI tidak perlu dianggap sebagai ancaman bagi fotografi dan videografi. Meskipun AI dapat membantu dalam pengeditan dan tugas-tugas repetitif, kredibilitas dan kejujuran yang dihasilkan oleh fotografer manusia tetap menjadi faktor penting dalam fotografi jurnalistik.
Diskusi menyoroti pentingnya kolaborasi antara jurnalis dan teknologi, di mana AI dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi kerja jurnalis, tanpa mengesampingkan nilai-nilai etika dan kejujuran yang harus dijunjung tinggi dalam dunia jurnalistik.
Diskusi Media, Media Diskusi, dengan tema “Media vs Artificial Intelligence” Selasa, 28 Januari 2025 diselenggarakan oleh JOIN (Jurnalis Online Indonesia) Sulawesi Selatan bersama Komunitas Kafe Baca di Makassar.
Diskusi dibuka secara resmi oleh Ketua JOIN Sulsel, Dr Arry Abdi Salman, S.I.Kom, SH, MH, CPCE, CPM. Dihadiri puluhan wartawan senior, budayawan, sastrawan, dan akademisi.














